BROKER, Primadona Bisnis Tanpa Modal

Broker, atau biasa orang menyebut "makelar" bukan profesi baru bagi kita. Arti mudahnya, broker adalah orang yang mempertemukan penjual dengan pembeli, atau mempertemukan barang dari penjual kepada pembeli. Jasa yang ia dapatkan adalah berupa hadiah atau fee yang besarnya beragam, dari 1% hingga 3% bahkan lebih tergantung kesepakatan awal.

Dari dulu hingga sekarang, keberadaan profesi jenis ini sudah ada. Apalagi era sekarang yang aktivitasnya sudah sangat kompleks. Dari individu hingga perusahaan membutuhkan person atau jasa untuk memasarkan barang yang hendak ia jual. Namun, tahukah bahwa profesi sebagai seorang broker itu bisa dilakukan tanpa modal. Bahkan tidak sedikit para broker yang telah sukses dengan aktivitas ini. Lalu bagaimana caranya agar menjadi seorang broker yang sukses tanpa keluar modal?

Hampir semua barang produksi maupun konsumsi membutuhkan tenaga pemasaran. Sebut saja jahe. Jahe merupakan bahan dasar dalam pabrik jamu. Sedangkan para petani tidak jarang kesulitan memasukkan hasil panen jahenya ke pabrik. Selain pengetahuan yang minim, mereka terkadang kesulitan dengan bahasa birokrasi perusahaan. Seorang broker mendapat celah mempertemukan antara hasil panen petani dengan pabriknya. Hasilnya tentu akan banyak, sebab pihak pabrik tentu tidak mau hanya menerima beberapa kilo saja, tapi berton-ton. Dan kontinyu.

Barang lain yang sudah ngetrend adalah broker property. Tanah, rumah, ruko, kios, kebun, sawah, dan bangunan komersial lainnya bisa dijadikan lahan untuk mendapatkan keuntungan. Biasanya pemilik property dalam kondisi "butuh uang", sehingga menginginkan agar propertinya segera laku. Broker mencarikan calon pembeli, bisa personal ataupun tuan tanah bahkan developer. Developer yang notabene pemilik perumahan pun juga masih kesulitan memasarkan rumah-rumahnya. Apalagi broker yang sedang banyak tagihan rekening bank. Mereka akan memberikan fee lebih besar dari biasanya. Demikian halnya, pemilik tanah warisan desa. Pengetahuan orang-orang desa yang minim tentang harga pasar tanah, memungkin para broker mempercepat penjualan tanahnya.

Barang lainnya, adalah emas. Para pemilik emas tidak jarang kesulitan menjual kembali emasnya di toko. Meski toko itu adalah penjual emas yang dulu ia beli. Potongan yang tidak sedikit membuat mereka mencari alternatif lain menjual emasnya agar terjual tidak terlalu turun harganya. Apalagi menjual kembali tanpa nota pembelian, pasti terpotong banyak dari harga awal. Broker memanfaatkan kesempatan ini dengan menghubungi kolektor emas. Para kolektor biasanya tidak mempermasalahkan harga jika bentuk emas itu mengandung unsur seni yang tinggi.

Batu mulia lainnya yang lagi ngetrend sekarang, yakni batu akik. Para broker mencari sebanyak-banyak informasi si pemilik batu akik yang bagus dan bernilai tinggi. Kemudian mencarikan para kolektor maupun penyuka batu akik. Keduanya dipertemukan untuk menyelesaikan transaksinya.

Baca juga : Proses Pembuatan Batu Akik Agar Mengkilap Tajam dan Terlihat Tua

Barang berharga lainnya yang bisa dibrokerkan adalah barang antik. Nilai barang antik pasti sangat tinggi jika berhasil dibeli oleh kolektor barang antik. Fee yang dihasilkan ternyata lebih tinggi dari barang lainnya. Menurut beberapa sumber, dikatakan bahwa fee bagi seorang broker yang mampu menjualkan barang antik adalah sebesar separo dari harga jual barang, atau 50%. Nilai yang sangat besar jika dibanding modal yang dikeluarkan.

Oke, kita beralih berapa sih keuntungan seorang broker itu?

Kita ambil dua contoh, yaitu jahe dan properti. Contoh pertama, menjualkan hasil panen jahe dari petani kepada perusahaan jamu. Katakanlah dalam sehari masuk 10ton. Harga perkilo katakanlah 8 ribu. Maka setiap hari transaksi sebesar 80 juta. Fee yang didapat katakanlah 1% saja. Maka tiap hari si broker telah mengantongi keuntungan 800%. Sebulan berarti sebesar 24 juta. Apa yang dikerjakan? Hanya kontak petani untuk menyiapkan hasil panenannya, lalu menghubungi pabrik untuk menyiapkan armada angkutnya. Transaksi, selesai. Itu hitungan hanya satu pabrik saja. Bagaimana kalau bisa 2,3,4 atau 10 pabrik? Besar sekali hasilnya.

Contoh kedua, properti. Katakanlah sebidang tanah sebesar 10 hektar. Harga tanah per meter persegi adalah 1 juta. Maka jika berhasil terjual total harga adalah 10 milyar. Fee 1% untuk transaksi di atas 1 milyar. Maka si broker akan mendapat jatah sebesar 100 juta. Sangat besar jika dibandingkan aktivitas mempertemukan calon penjual. Paling pulsa beberapa ratus ribu saja. Jika bisa menjualkan tanah beberapa kali, maka jutaan bahkan milyaran rupiah akan mampir ke kantong si broker.

Sangat menggiurkan sekali profesi ini. Anda tertarik? Segeralah mencoba.

3 comments